SiFAT HAKIKAT MANUSIA DAN KEJIWAAN
sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-cii karakteristik yang secara prinsip membedakan manusia dengan hewan.
secara garis besar, wujud sifat hakikat manusia dibagi menjadi delapan yaitu :
a. kemampuan menyadari diri
b. kemampuan berekstensi
c. kata hati
d. moral atau etika
e. tanggung jawab
f. rasa kebebasan / merdeka
kewajiban dan hak.
Sikap adalah suatu cara beraksi terhadap suatu perangsang orang yang mengalami rangsangan dan stimulus
Sifat adalah ciri-ciri tingkah laku yang tetap/hampir tetap pada seseorang.
sifat dasar manusia : sifat biologis atau tumbuh, hewani dan intelektual.
sikap seseorang itu dapat dibentuk entah dari faktor lingkungan atau faktor yang lainnya. dan faktor lingkungan selalu mempengaruhi pendidikan karakter seseorang.
PendidikanKU
Kamis, 16 Januari 2014
Selasa, 03 Desember 2013
Fungsi dan Peranan Kurikulum
Fungsi kurikulum ada beberapa yaitu untuk guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, dan juga siswa.
a. Bagi Guru : sebagai pedoman bagi proses pembelajaran
b. Bagi kepala sekolah : pedoman dalam melaksanakan pengawasan.
c. Bagi orang tua : sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar dirumah.
d. Bagi masyarakat : sebagai pedoman untuk memberikan bantuan terselenggaranya proses pendidikan disekolah.
e. Bagi siswa : sebagai pedoman belajar.
Peranan kurikulum ada tiga peranan yaitu :
1. peranan konservatif dimana kurikulum dapat dijadikan sebagai sarana untuk menstramisikan warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada siswa.
2. peranan kreatif dimana kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan pengembangan yang terjadi dalam kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan yang akan datang.
3. peranan kritis dan evaluatif dimana kurikulum harus mampu mengontrol dan mengfilter nilai dan budaya serta pengetahuan guru yang diwariskan untuk peserta didik.
Daftar Pustaka : http://www.slideshare.net/SitiKhadijah16/pengantar-kurikulum-khadijah
Jumat, 15 November 2013
Artikel Pendidikan
A.
Pengertian
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum merupakan seperangkat
pelajaran yang harus diberikan kepada siswa dengan metode tertentu dan
pengalaman belajar yang relavan dengan tujuan pembelajaran dibawah tanggung
jawab sekolah.Dengan adanya kurikulum, maka kegiatan pembelajaran akan terarah
sehingga tujuan pendidikan akan tercapai dan terlaksana dengan baik. Dalm hal
ini guru dituntut untuk lebih kreatif dalam penyampaian bahan ajar, agar
peserta didik bisa lebih mengerti dalampengaplikasiannya.Kompetensi merupakan
gabungan dari berbagai pengetahuan dan keterampilan serta aspek-aspek nilai dan
tingkah laku yang dituangkan dan dipraktekkan dalam kebiasaan berfikir dan
berbuat.
Dari pengertian di atas, maka jelas
bahwa suatu kompetensi harus didukung oleh pengetahuan, keterampilan, aspek
nilai dan tingkah laku yang harus dimiliki oleh seseorang, yang mana
keseluruhan tersebut harus menjadi bagian dari dirinya sehingga akan
mempengaruhi dan memberi perubahan pada perilaku kognitif, afektif dan
psikomotoriknya. Oleh karena itu, kompetensi bukan hanya ada dari pengetahuan
belaka, akan tetapi sebuah kompetensi itu harus tergambarkan dalam pola
perilaku. Artinya seseorang dikatakan memiliki dan mempunyai kompetensi
tertentu, apabila ia bukan hanya sekedar tahu tentang sesuatu itu, tetapi dia
juga tahu bagaimana mempraktekkan dan menggunakan pengetahuan itu dalam
perilaku atau kegiatan yang dia kerjakan.
Berdasarkan pengertian dari kurikulum
dan kompetensi di atas, “Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dapat diartikan
sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan
melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu,
sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan
terhadap seperangkat kompetensi tertentu.”
B.
Tujuan Kurikulum
Berbasis Kompetensi
1. memandirikan
atau memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan
kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi lingkungannya.
2. mengharapkan
adanya hasil dan pengaruh yang diharapkan timbul pada peserta didik melalui
proses pengalaman kegiatan belajar dan mengajar yang bermakna.
3. untuk
menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya
bangsanya.
4. dapat
membawa anak bangsa menjadi generasi yang sanggup menjawab segala tantangan
budaya, arus teknologi, informasi dan globalisasi.
5. memberikan
kesempatan pada peserta didik untuk belajar sesuai dengan keberagaman
masing-masing.
6. untuk
mengembangkan kemampuan dan bakat yang telah dimiliki oleh setiap peserta
didik, dan juga memberikan pengetahuan-pengetahuan yang baru, agar mereka dapat
menggunakan dan mengoptimalkan kemampuan dan bakat tersebut, sehingga mereka
memiliki keterampilan dibarengi dengan tingkah laku yang baik dan dapat membuat
mereka lebih terarah serta maju dalam kehidupannya.
7. dapat
mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat siswa
agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk keterampilan, tepat, dan berhasil
dengan penuh tanggung jawab.
C. Materi
Yang Ada didalam Kurikulum
Materi Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) tidaklah sepadat kurikulum 1994. Dalam KBK ini lebih menekankan pada
tingkat kedalaman materi. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas dari guru
dalam menyajikan dan mengembangkan materi. Dalam hal ini guru dituntut untuk
lebih inovatif, kreatif, dan bekerja keras untuk mengakses berbagai informasi
yang terkait dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan profesinya. Dengan
demikian, guru sebagai pendidik tidak akan ketinggalan informasi dan akan
menjadi lebih profesional. Sebaliknya jika guru tidak berusaha memahami
kurikulum berbasis kompetensi secara benar, malas mengakses berbagai informasi
dan masih menggunakan paradigma lama seperti sikap yang penting mengajar,
mendapat gaji setiap bulan maka akan berakibat kualitaspendidikan lebih
terpuruk lagi.
Dalam mengimplementasikan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) sekolah harus menyiapkan diri agar pelaksanaannya
berjalan dengan baik. Bertolak pada keadaan sekolah di Kalimantan Timur pada
umumnya, ada tiga tingkatan yang perlu direformasi dalam rangka melaksanakan
KBK. Tiga tingkatan yang direformasi tersebut adalah pada tingkat sekolah,
tingkat mediator, dan tingkat kelas.Pertama, pada tingkat sekolah (manajemen)
merupakan representasi kolektif dari warga sekolah secara keseluruhan atau
disebut iklim sekolah. Pada tingkat ini yang harus diwujudkan atau dilakukan
yakni menetapkan visi dan misi sekolah secara jelas dan rasional yang
kemungkinan besar dapat dicapai oleh sekolah. Visi dan misi sekolah harus
diketahui oleh seluruh warga sekolah sehingga semua warga sekolah memiliki
komitmen untuk mencapai visi yang telah ditetapkan secara bersama.
Pada masa orde baru bahkan di era
otonomi pendidikan sekarang masih banyak warga sekolah yang tidak mengetahui
visi dan misi sekolah. Hal ini disebabkan karena visi dan misi sekolah hanya
dibuat oleh segelintir orang yang dipercaya oleh kepala sekolah yang
mengatasnamakan seluruh warga sekolah dan masyarakat (orang tua siswa),
sehingga tidak mengherankan jika sebagian warga sekolah tidak mengetahui visi
dan misi dari sekolah dimana ia bekerja. Implikasi dari tindakan tersebut
adalah munculnya sikap apatis dari warga sekolah (guru, karyawan, dan siswa)
untuk memajukan sekolahnya. Hal ini jika tidak segera diatasi akan mempengaruhi
iklim sekolah yang akhirnya menurunkan kualitas pendidikan di sekolah.
D.
Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi
Secara umum, karakteristik kurikulum berbasis
kompetensi meliputi enam hal, yaitu:
1. Sistem belajar dengan modul. Tujuan
dari sistem modul ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran di sekolah. Keunggulan pembelajaran dengan sistem modul adalah
adanya kontrol terhadap hasil belajar, berfokus pada kemampuan individu, dan
relevansi kurikulum ditunjukkan dengan adanya tujuan dan cara pencapaiannya.
2. Menggunakan keseluruhan sumber
belajar. Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat memberikan
kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh informasi, pengetahuan, pegalaman,
dan keterampilan dalam proses bealajar. Sumber belajar dapat berrupa manusia,
bahan, lungkungan, alat dan peralatan, serta aktivitas.
3. Pengalaman lapangan. Pengalamamn
lapangan ini untuk menumbuhkan komunikasi antara guru dengan murid. Pengalaman
lapangan dapat secara sistematis melibatkan masyarakat dalam pengembangan
program, aktivitas, dan evaluasi pembelajaran.
4. Strategi belajar individual
personal. Tujuannya adalah agar siswa mampu belajar mandiri. Belajar individual
adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik, sedangkan belajar
personal adalah interaksi educatif berdasarkan keunikaan peserta didik seperti
minat, bakat, dan kemampuan.
5. Kemudahan belajar. Kemudahan ini
diberikan melalui perpaduan antara pembelajaran individual personal dengan
pengalaman lapangan, dan pembelajaran secara tim.
E. Metode
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan
dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.Enam metode yang menyokong
hasil pembelajaran yang mengacu pada KBK :
1.
Metode tanya jawab, adalah metode mengajar yang
memungkinkan terjadinyakomunikasi langsung yang bersifat two way traffic
sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Yang memiliki tujuan
:
a. Untuk mengetahui sampai sejauh mana
pelajaran telah dikuasai oleh siswa
b. Untuk merangsang siswa berpikir
c. Memberi kesempatan pada siswa untuk
mengajukan masalah yang belum dipahami.
2. Metode
diskusi(discussion), diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat,
dan unsure-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat
pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau
untuk mempersiapkan dan menyelesaikan keputusan. Dalam diskusi tiap orang
diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham
yang di bina bersama
3. Metode
Demonstrasi dan Eksperimen, metode mengajar yang sangat efektif, sebab membantu para
siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang benar. Demonstrasi yang dimaksud ialah suatu
metode mengajar yang memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu.
4. Metodeproblem
solving
(memberi pemecahan masalah), bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga
merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan
metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik
kesimpulan.
5. Metode
latihan (drill), pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan
atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Mengingat latihan ini kurang
mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berpikir, maka hendaknya
guru/pengajar memperhatikan tingkat kewajaran dari metode ini :
a. Latihan, wajar digunakan untuk
hal-hal yang bersifat motorik, seperti menulis, permainan, pembuatan, dll.
b. Untuk melatih kecakapan mental,
misalnya perhitungan, penggunaan rumus-rumus.
c. Untuk melatih hubungan, tanggapan,
seperti penggunaan bahasa, grafik, symbol peta, dll
6. Metode
karya wisata (field trip), karya wisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri
yang berbeda dengan karya wisata dalam arti umum. Karya wisata disini berarti
kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar.
Contoh : Mengajak siswa ke Balai Desa untuk mengetahui
jumlah penduduk dan susunannya pada desa tersebut selama satu jam pelajaran,
jadi karya wisata di atas tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah, dan
tidak memerlukan waktu yang lama.
F.
Langkah-langkah metode
1.
Adanya
masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini haru tumbuh darisiswa sesuai
dengan taraf kemampuannya.
2.
Mencari
data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut,
misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dll.
3.
Menetapkan
jawaban sementara dari masalah tersebut, dugaan jawaban ini tentu saja
didasarkan pada data yang telah diperoleh, pada langkah kedua di atas.
4.
Menguji
kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha
memecahkan masalah sehingga benar-benar yakin bahwa jawaban tersebut
betul-betul sesuai. Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali
tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan
metode-metode lainnya seperti demonstrasi, tugas diskusi, dll.
5.
Menarik
kesimpulan, artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban
dari masalah tadi.
6. Metode problem solving akan
melibatkan banyak kegiatan sendiri dengan bimbingan dari para pengajar
G.
Evaluasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi
Evaluasi dalam KBK menekankan pada
evaluasi hasil dan proses kegiatan pembelajaran. Kedua sisi ini sama pentingnya
agar pencapaian standar kompetensi dilakukan secara utuh antara aspek
pengetahuan dan sikap serta keterampilan.
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan
kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan
apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan
tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. (dikutip dari Bloom et.all
1971).Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu :
1. Evaluasi
bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembelajaran bagi
masyarakat.
2. Evaluasi
adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilkukan dengan metode
yang berbeda.
3. Pelaku
evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan
tertentu. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap
keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.
4. Penelitian
evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.
5. Evaluator
tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.
6. evaluasi
adalah proses, jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.
7. Evaluasi
memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman
metode penggalian informasi.
8. Evaluasi
akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable.
9. Evaluator
hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif, evaluasi
sumatif dan evaluasi program.
10. Evaluasi
memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat, bukan
terpaku pada angka soalan tes.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa
sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek
dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi
objek tersebut.Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang
terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting
yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah
dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran.Evaluasi pendidikan
memiliki beberapa fungsi yaitu:
1. Fungsi
selektif
2. Fungsi
diagnostic
3. Fungsi
penempatan
4. Fungsi
keberhasilan
Maksud dilakukannya evaluasi adalah:
1. Sebagai
perbaikan system
2. Pertanggungjawaban
kepada pemerintah dan masyarakat
3. Penentuan
tindak lanjut pengembangan
Teknik evaluasi dalam KBK digolongkan
menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes.
1. Teknik
non tes meliputi:
a. Rating
scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka.
Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat
paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan
perbandingan terhadap angka yang lain.
b. Kuesioner
adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang
memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner
tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh
orang yang diminta jawabannya. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh
secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh,
apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka
dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya. Dan bila ditinjau
dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan
kuesioner terbuka. Kuesioner tertutup adalah daftar pertanyaan yang memiliki
dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau
cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan kuesioner terbuka adalah
daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan
pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.
c. Daftar
cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom
pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek
(√) pada awaban yang ia anggap sesuai.
d. Wawancara,
suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan
yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2
kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden)
diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui
tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin
dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang
bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan
saja.
e. Pengamatan
atau observasi, adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan
mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Pengamatan
atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu
pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. (2) Observasi
sistematik, pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Pengamat telah
membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh
terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan.
f. Riwayat
hidup, evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai
objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.
2. Teknik
tes. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu :
a. Tes
diagnostic
b. Tes
formatif
c. Tes
sumatif
Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan
hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebagaimana telah
dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan
3 unsur yaitu input, proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak
bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh
hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi
dalam proses pembelajaran.Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi
pendidikan secara umum adalah sebagai berikut :
1. perencanaan
(mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan evaluasi,
teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana,
penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb)
2. pengumpulan
data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan)
3. verifiksi
data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb)
4. pengolahan
data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak
di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non
parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS )
5. penafsiran
data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis
ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa
taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan
dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila
hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang
ditimbulkan oleh evaluasi itu.
H. Kelebihan
dan Kekurangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
1.
Kelebihan
Kurikulum KBK antara lain sebagai berikut :
a. Mengembangkan
kompetensi – kompetensi peserta didik pada setiap aspek mata pelajaran dan
bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu sendiri.
b. Bersifat
alamiah (kontekstual), karena berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik
untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan kompetensinya masing –
masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar dan proses belajar
berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan
standar kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan.
c. Kurikulum
KBK boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan – kemampuan lain. Penguasaan
ilmu pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan seehari –
hari, serta aspek – aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal
berdasarkan standar kompetensi tertentu.
d. Mengembangkan
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Peserta didik dapat bergerak aktif
secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin dan
membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar.
e. Guru
diberikan kewenangan untuk menyusun silabus yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi di sekolah / daerah masing –masing sesuai mata pelajaran yang
diajarkan.
f. Bentuk
pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata pelajaran
memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta didik dalam
kegiatan pembelajaran.
g. Penilaian
yang menekankan pada proses memungkinkan peserta didik untuk mengeksplorasi
kemampuanya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian yang terfokus pada
konten,.
2.
Kekurangan
Kurikulum KBK antara lain sebagai berikut :
a. Dalam
kurikulum dan hasil belajar indikator sudah disusun, padahal indikator
sebaiknya disusun oleh guru, karena guru yang paling mengetahui tentang kondisi
peserta didik dan lingkungan.
b. Konsep
KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar kompetensi dasar
sehingga menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran secara berkelanjutan.
c. Paradigm
guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum – kurikulum sebelumnya yang
lebih padateacher center.
d. Memandang
kompetensi sebagai sebuah entitas yang bersifat tunggal.
e. Kendala
yang dihadapi dalam mengimplementasikan KBK adalah waktu, biaya dan tenagayang
banyak.
Langganan:
Postingan (Atom)